Identifikasi yang benar dan identifikasi yang salah.
Identifikasi :Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan individu lain yang ditiru. orang lain yang menjadi sasaran identifikasi disebut idola.
**
Rasulullah adalah utusan Allah , seorang nabi Akhir Zaman. Beliau adalah manusia pilihan Allah dengan keagungan Akhlak dan budi pekertinya.
Kita sebagai umatnya diwajibkan untuk bisa mengindentifikasi Rasulullah. Dengan cara apa? Yaitu dengan dengan cara mencintainya, selalu mendoakan sholawat untuk Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya, dan yang yang terpenting, sebagai umat Rasulullah, cara mengindentifikasi kita pada Rasulullah adalah dengan meneladani akhlaknya dan mengamalkan Sunnah-sunnahnya, menjauhkan diri kita pada kesyirikan dan perilaku-perilaku bid’ah.
Itulah cara kita mengidentifikasi diri kita pada Rasulullah. Itulah Identifikasi yang benar.
**
Namun ada juga cara mengidentifikasi kepada Rasulullah dengan cara yang tidak benar. Salah satu cara mengindetifikasi diri pada Rasullaullah dengan cara yang tidak benar adalah menganggap diri kita sederajat dengan kewenangan yang hanya dimiliki oleh Rasulullah.
Contohnya adalah Pak Nurhasan. Pak Nurhasan mengindentifikasi dirinya pada Rasulullah dengan cara yang tidak benar. Contohnya, pak Nurhasan tahun 1950-1960 pernah memerintahkan royahnya untuk berkumpul dan hijarh ke gading mangu. Gading Mangu ini diidentifikasikan oleh Pak Nurhasan seperti Kota Madinah. Makanya kita sebagai orang jokam, mahfum kalau orang jokam yang tinggal di gading mangu dengan sebutan Muhajir ( Layaknya Muhajir sahabat Rasulullah yang merupakan penduduk kota mekkah dan kemudian hijrah ke madinah). Bahkan Muhajir a la jokam ini memiliki Imam sendiri yang kedudukannya sedikit lebih tinggi dari Imam-Daerah. Bahkan di Jakarta, ada pengajian khusus kaum Muhajir, yang mana pengajian ini ekslusif khusus untuk orang-orang gading mangu, Jombang Saja. Fenomena Muhajir dalam kalangan jokam bahkan banyak tidak diketahui ol,eh kalangan jokam itu sendiri, khususnya jokam-jokam marginal atau yang berdomisili jauh dari Jawa-Timur. Fenomena Hijrahnya massa jokam dan membikin komune di gading mangu Jombang adalah wujud dari Pak Nurhasan memposisikan dirinya seperti Nabi Muhammad yang sedang memerintahkan umatnya untuk hijrah.
Dalam Psikologis pak Nurhasan, pak Nurhasan menyamakan dirinya dengan Nabi Muhammad dengan segala keistimewaannya. Namun sayangnya, cara pak Nurhasan menyamakan dirinya pada Nabi Muhammad lebih condong ke penyakit jiwa Megalomania. Yaitu berkhayal bahwa dirinya adalah seperti tokoh-tokoh hebat seperti Nabi Muhammad. Motivasinya bisa beraneka macam, seperti untuk mendapatkan puja-puji dan tindakan kultus individu dari pengikutnya, bisa penggalangan harta kekayaan dari para pengikutnya atas nama infak, ketermukaan, ketokohan, dan pengendalian kekuasaan ditengah-tengah jamaahnya. Hampir dipastikan orang-orang seperti ini bermotivasi untuk kesenangan dan kepentingan pribadi dan keluarganya dengan bahasa yang dikemas dengan istilah-istilah agama sehingga agenda kepentingan ini terbiaskan dari pengertian pengikutnya.
Kalau orang-orang megalomania dengan mengindentifikasikan dirinya pada tokoh-tokoh seperti Napoleon Bonaparte, Great Alexander, Soekarno dan lain-lain, mungkin itu tidak memunculkan implikasi apa-apa. Hanya sedikit fenomena kegilaan saja. Namun Sangat Bahaya apabila ada orang yang mengindentikasi dirinya pada Rasulullah dengan cara-cara yang salah. Orang yang mengindentifikasi dirinya pada Rasulullah akan menganggap dirinya punya hak untuk membikin syariat-syariat baru. Adapun pembuatan syariat-syariat baru ini kemudian istilahnya dibiaskan dengan sebutan “Ijtihad” sehingga para pengikutnya pun membolehkan untuk sang pemimpin untuk membuat syariat baru. Pengikutnya tertipukan seolah yang dilakukan pemimpinnya itu mendapatkan Izin dari Allah dan kebolehan dalam syariat. Kondisi makin diperburk karena semua pengikut sudah didoktrin bahwa semua ajaran diluar titah sang Pemimpin itu sesat dengan berbagai labelling seperti “ ilmunya tidak mangkul”. Akibatnya para pengikut praktis kehilangan akal dan daya pikirnya dan sama sekali tidak punya daya kritis sama sekali. Semua yang dilakukan sang Imam adalah Benar, semua perintah dan Ijtihad sang Imam pasti benar. Bahkan Ijtihad-ijtihad yang ekspilisit ngawurnya seperti Ijtihad kafaroh riba, dimana riba harus ditaubati dengan cara riba juga yaitu dengan membayar kafaroh ke Pusat, oleh para pentaklidnya Ijtihad itu dipandang benar dan suci walaupun hampir semua pentaklidnya tidak mematuhi pertintah itu ( jadi hanya membenarkan Ijtihad Imam saja).
Dan bahaya selanjutnya dari orang yang mengindetifikasi dirinya pada Rasulullah adalah, orang tersebut ( Pemimpin) dan pengikutnya jadi berkeyakinan bahwa Jamaahnya adalah manifestasi dari Umat-Islam itu sendiri secara Universal. Akibatnya siapa saja yang tidak berbaiat pada sang Imam maka orang tersebut akan distatuskan sama kedudukannya seperti tidak beriman pada kenabian Muhamaad Rasulullah. Dan juga berimplikasi siapa saja yang tidak bergabung dengan jamaahnya maka disamakan statusnya seperti bukan bagian dari umat islam, karena jamaah dari kelompok tersebut mengindetifiasi dirinya adalaah umat Islam Universal alam semesta. Di tahap ini telah terjadi pengkerdilan makna dari Islam dan Umat Islam Universal.
Implikasi selanjutnya adalah, Status keimamanan seseorang pada Allah dan Pada Rasulullah menjadi sangat tidak berharga dimata jamaah seperti ini karena Status Keimamanan Seseorang pada Allah dan Rasul menjadi tidak bermanfaat apabila orang tersebut belum berbai’at pada Imamnya dan bergabung dengan Jama’ahnya. Maka secara tidak sadar, para pengikut dari Jamaahnya ini telah menempatkan kedudukan Imam dan Jamaahnya jauh lebih suci dan jauh lebih unggul dibandingkan dengan kedudukan Allah dan Rasulnya, karena Jamaah ini memiliki ideologi bahwa siapa saja Manusia yang sudah Islam dan Beriman pada Allah dan Rasul-nya tetapi tidak berbai’at pada sang Imam, maka Keimanannya pada Allah dan Rasul menjadi tidak berguna. Inilah titik dimana jamaah ini jauh menempatkan sang Imam diatas kedudukan Allah dan Rasul-nya. Maka sadar atau tidak disadari, jamaah jokam ini pada hakikatnya telah memberhalakan sang Imam ( Thagut) dan kemungkinan besar akan menemani Thagutnya di neraka, naudzubillah min dzalik.
Kondisi semakin diperparah karena sang Imam menggunakan penyimpangannya dengan menggunakan sistem tandhim sirriyah (sistem rahasia) dimana sistem bitonah ini digunakan agar kesesatannya luput dari kritik sosial dan kesalahan yang diderita oleh pengikutnya tidak disadari oleh pengikutnya. Akibatnya, akidah 354 menutup kemungkinan umat manusia dari belahan pojok dunia tidak mungkin masuk syurga Allah, sebab akidah 354 mensyaratkan sahnya keislaman seseorang hanya boleh dilakukan apabila orang tersebut telah berbaiat pada Imamnya. Ini jadi ngga logis dimana kaum 354 mengemas Imamnya dengan cara Rahasia sekali tetapi mereka menerapkan kekafiran dan status masuk neraka bagi siapa saja yang tidak berbeat pada Imamnya. Padahal Kebenaran Islam harus diketahui umat manusia secara sangat terbuka terbuka , well informed dan syiar yang sangat eksplisit, sehingga umat manusia semua terpanggil untuk memeluk kebenaran Islam. Beda halnya dengan kebenaran ala Jamaah 354 dimana kebenaran itu ditampilkan dengan cara sok misterius, sok ekslusif yang Cuma menhasilkan jiwa-jiwa fasis yang tertipu. Kalau Islam ditentukan dengan berbeat pada Imam 354, maka dapat dipastikan 99,9999% penduduk dunia akan masuk neraka (dan yang masuk syurga hanya nurhasan, dhohir, sulton aulia, kasmudi, kholil dan pengikut jamaah 354 saja), karena jangankan di dunia, wong di Indonesia saja keberadaan sang Imam banyak yang tidak tau. Ajaran Jokam 354 telah menempatkan Allah sebagai Tuhan yang tidak adil, karena jamaah 354 telah mengkonsep kebenaran tidak dengan sesuatu yang bersifat substansi dan hakiki, tapi kebenaran dilihat dengan cara untung-untungan, yaitu menjadi anggota sebuah jamaah sirr ( kelompok rahasia) dan untung-untungan bisa mengetahui sang Imam. Padahal, Maha Suci Allah dari sifat-sifat yang disifati oleh kaum 354
Kaum 354 pasti akan berkilah tapi kan Islam harus Berjamaah dan harus punya Imam.
Maka jawabnya : maka pahamilah makna Jama’ah dengan cara pemahaman para Shabat, dan bukan pemahaman Nurhasan. Maka Pahamilah pengertian Imam/Sulthon
dengan pengertian para sahabat dan bukan dengan pemahaman Nurhasan.
Recommended:
https://www.facebook.com/groups/tanyajawabsharingduniaakhirat/751348728220291/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar